35 Mantan Pengguna Napza Tapteng Binaan LKS Sehati Jalani Rehabilitasi Sosial dari Kemensos

  • Bagikan
Foto bersama usai program pelatihan dari kemensos terhadap mantan pengguna napza binaan LKS Sehati

1MNC, Tapteng | 35 warga Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumut yang merupakan mantan pengguna Narkoba, Psikotropika,Zat Aditif (NAFZA) binaan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Sehati menjalani pelatihan dan pembinaan dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI selama dua hari di Rumah Singgah milik Dinas Sosial Tapteng yang berada di kompleks RSUD Pandan.

Kemensos RI melalui UPT nya Balai Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Napza (BRSKPN) “Insyaf” Medan melakukan pelatihan dan pembinaan kepada 35 mantan pengguna NAFZA dimulai hari Selasa (21/09/2021) dan berakhir hari Rabu (22/09/2021).

Program pelatihan dan pembinaan dibuka langsung P Kadis Sosial Tapteng Roby Edata Manik ditandai dengan penyematan baju seragam kepada perwakilan peserta.

“ Pak Bupati Bakhtiar Ahmad Sibarani dan Pak Wakil Bupati Darwin titip salam dan menyampaikan maaf tidak bisa menghadiri acara pembukaan pelatihan dan pembinaan ini dikarenakan adanya kegiatan dinas diwaktu yang sama. Pak Bupati dan Pak Wakil mengapresiasi dan atensi program dari Kemensos RI ini. Program ini sejalan dengan program Pak Bupati/Wakil Bupati memberantas narkoba di Kabupaten Tapanuli Tengah, “ kata Roby Manik dalam kata sambutannya.

35 mantan pengguna Napza warga Tapteng mengikuti program rehabiltasi sosial

Kepada peserta Roby Manik berpesan agar mengambil mamfaat dari program ini.

“ Jangan hanya mengikuti program ini sebatas keterpasaan dan seremonial saja. Pemerintah sudah memberikan ruang dan adik bagi adik-adik untuk bisa melupakan masa lalu dengan program atensi rehalibitasi ini. Ikuti program ini agar adik adik bisa merecovery (pemulihan,red) dan bisa berguna bagi diri sendiri, keluarga dan tentunya Kabupaten Tapanuli Tengah, “ lanjut Robby.

Sementara itu, Leli Harsam dari UPT BRSKPN Insyaf Medan selaku perwakilan dari Kemensos RI menjelaskan

“ Di program ini, kami akan memberikan terapi psikososial bertujuan agar mantan pengguna napza ini bisa kembali berfungsi secara social dan percaya diri ditengah masyarakat. Selain itu kita juga akan memberikan stimulant dalam bentuk bantuan agar mereka mandiri, “ jelasa Harsam.

Harsam menjelaskan stimulant yang dimaksud adalah berbentuk barang bukan uang.

“ Bantuannya berbentuk barang sesuai kemauan dan keahlian peserta. Kalau mereka punya peternak kita berikan bibit, kalau mereka ingin buka usaha las kita berikan alatnya. Intinya sesuai kebutuhan mereka. Program selanjutnya para peserta akan diberikan pelatihan khusus sesuai kebutuhannya. Usai program ini, para peserta akan dipantau LKS dan Dinsos untuk melihat tingkat keberhasilannya , “ beber Harsam .

Kadis Sosial Tapteng Roby Edata Manik memakaian baju peserta program rehabilitasi sosial mantan pengguna Napza

Harsyam berharap usai pelatihan dan pembinaan ini, para mantan pengguna NAFZA bisa insyaf.

Samahati Lase selaku Ketua LKS Sehati mengaku prihatin dengan makin maraknya para pengguna NAFZA di Kabupaten Tapanuli Tengah.

“ Para pengguna NAFZA yang ikut program selama ini dibawah binaan LKS Sehati. Dari pengalaman kami, khusus yang masih dibawah umur, awalnya mereka adalah pengguna lem kambing, selanjutnya meningkat ke ganja dan terakhir narkotika jenis sabu, “ jelas Samahati Lase.

“ Peserta di program ini, sebelumnya telah kami bina dengan cara melakukan pertemuan di kantor LKS Sehati. Melalui nara sumber kami baik dari Tokoh Agama maupun pihak kepolisian dan dokter , mantan pengguna napza ini diberikan pembekalan baik spritualnya, kesehatan maupun hokum apa yang akan menimpanya jika tetap menggunakan Napza, “ ungkap Samahati Lase.

Samahati Lase yang berkantor di Jalan Oswald Siahan Kecamatan Pandan ini mengapresiasi program dari Kemensos RI.

“ Kami apresiasi program dari Kemsos ini Pak. Mudah-mudahan para mantan pengguna Napza ini bisa insyaf dan meninggalkan masa lalu nya, “ tutupnya.

Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika menyatakan bahwa rehabilitasi bagi pecandu dan korban penyalahgunaan Napza dilakukan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

Rehabilitasi medis dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, sedangkan rehabilitasi sosial oleh Kementerian Sosial. Rehabilitasi medis dilakukan di pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit maupun klinik kesehatan.

Rehabilitasi sosial dilaksanakan di UPT Kemensos RI (BRSKPN/Loka). (Agus Tanjung)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan