Corona Masih Ganas, Perkuat Disiplin Protokol Kesehatan di Fase New Normal

  • Whatsapp

Oleh : Aditya Akbar
( Penulis adalah kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI) )

 

1Minutesnews.com, Artikel | New Normal memang tengah menjadi topik yang banyak diperbincangkan, namun ketika new normal ini semakin santer disebutkan, justru masih banyak masyarakat kita yang tidak mengindahkan protokol kesehatan, utamanya pengabaian akan social distancing ketika berada di luar rumah.

Padahal New Normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktifitas normal namun dengan ditambah dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan covid-19. Sehingga salah besar jika kita menganggap new normal sebagai kebebasan kita untuk melakukan aktifitas di luar rumah.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan, jangan mengharap bulan Juni kasus corona akan tuntas, kita harus menunggu lebih lama.

Sementara itu, WHO (World Health Organization) telah mendesak negara-negara untuk melanjutkan upaya penanganan covid-19 dengan ketat. Hal ini disampaikan oleh WHO seiring bertambahnya laporan kasus virus corona di beberapa negara.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan ada lebih dari 136.000 kasus baru dilaporkan di seluruh dunia pada awal Juni. Hampir 75 persen laporan kasus corona terbanyak dilaporkan dari 10 negara, sebagian besar di Amerika dan Asia Selatan. Hal ini diperkuat oleh penuturan Epidemiolog WHO Van Kherkhove yang mengatakan pandemi corona masih jauh dari kata selesai.

Menurun Kherkhove banyak negara yang melakukan pelacakan kontak / tracing dan telah mengidentifikasi kasus tanpa gejala, tetapi tidak menangani kasus tersebut untuk diisolasi. Banyak pula yang menganggap bahwa mereka bukan menjadi penyebaran virus corona lebih lanjut.

Sementara itu, Sosiolog dari Universitas Indonesia Ida Ruwaida berpendapat bahwa belum semua masyarakat siap menerapkan pola new normal.

Menurutnya, hal tersebut dibutuhkan proses adaptasi dan pencarian bentuk yang sesuai dengan kondisi masyarakat.

Ia juga menuturkan, masih banyak masyarakat yang melanggar aturan selama pemerintah menerapkan PSBB. Sehingga ia justru khawatir jika masyarakat justru salah kaprah memaknai new normal sebagai kembali ke rutinitas sebelum adanya pandemi covid-19, alias old new normal.

Kembalinya fenomena padatnya bandara, pasar maupun pusat perbelanjaan, tentu menandakan bahwa pandemi belum menstimuli new normal yang diharapkan oleh pemerintah.

Tentu wacana terkait dengan pemberlakuan new normal jangan sampai salah kita salah tafsir. New normal bukan berarti mengijinkan masyarakat untuk beraktifitas di luar rumah tanpa kepatuhan terhadap protokol kesehatan.

Pada kesempatan berbeda, Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji mengingatkan agar masyarakat tidak kebablasan dalam mengartikan istilah normal baru yang akan diterapkan pemerintah saat ini di tengah pandemi virus corona.

Ia berpendapat, bahwa sebelum pelonggaran psbb untuk menyambut new normal diterapkan, masyarakat jangan sampai kebablasan dalam mengartikan tatanan kenormalan baru tersebut.

Kita juga harus mengakuti bahwa proses adaptasi terhadap sebuah perubahan atau kebiasaan-kebiasaan baru memang bukan perkara mudah. Meski tak mudah secara psikologis, namun setiap individu diharapkan dapat beradaptasi dengan situasi yang berbeda ini.
Saat ini kita bisa dengan mudah mengetahui seseorang yang menggelar hajatan dengan atau tanpa mematuhi protokol kesehatan. Selain itu semakin marak pula masyarakat yang bersepeda setiap harinya, tentu aktifitas ini menyehatkan, namun jika aktifitas ini dilakukan tanpa mengindahkan protokol kesehatan, tentu saja new normal bisa diibaratkan masih jauh panggang dari api.

Dalam menyambut new normal menjaga kesehatan adalah sebuah kewajiban, rutinlah berolahraga ringan secara teratur. Seperti latihan pernapasan, yoga atau meditasi. Jangan lupa untuk tetap mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang.

Selain itu lakukanlah aktifitas fisik, banyak riset yang menunjukkan adanya hubungan positif antara stress dan aktifitas fisik. Semakin rutin menjalani aktifitas fisik, maka semakin rendah pula tingkat stress yang dimiliki.

Yang paling penting adalah pahami informasi dan fakta terkait dengan covid-19 atau new normal dari sumber yang terpercaya. Jangan mudah percaya melalui pesan berantai di whatsApp, telusurilah dan carilah berita pembanding lainnya.

Jika perlu istirahatkan sejenak dari beragam pemberitaan mengenai covid-19. Hindari berita yang menambah kecemasan. Nyatanya kecemasan yang berlebihan justru dapat menurunkan imunitas tubuh.

Segala yang berlebihan tentu tidak akan berakhir baik, new normal yang digaungkan bukan berarti pertanda pemerintah telah membebaskan masyarakat dari beragam protokol kesehatan. (***)

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan