Sibolga Bebas Virus Babi, Pemerintah Himbau Warga Jangan Takut Makan Ikan

  • Whatsapp
drh. Febria Sihotang di dampingi Kadis PKPP Kota Sibolga Binsar Manalu,,menyatakan tidak ada virus babi di Sibolga dan meminta masyarakat jangan takut makan ikan akibat adanya bangkai babi di laut.

1MinutesNews.COM, SIBOLGA | Akibat serangan virus babi (Hog Cholera), nelayan di Kota Sibolga merugi. Pasalnya, warga takut memakan ikan karena adanya temuan bangkai babi yang di buang ke laut dan di duga mati akibat virus babi, Senin (10/12/2019).

Kekhawatiran masyarakat dan nelayan di Kota Sibolga terjawab sudah.

Pemerintah Kota Sibolga melalui Dinas Perikanan , Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dinas PKPP) membantah dan menyatakan, tidak adanya temuan hewan ternak babi yang mati akibat terserang virus Hog Cholera.

“ Hasil tes dari Tim PKPP Kota Sibolga dan Tim Pemprov Sumut terhadap hewan ternak babi yang ada di Kota Sibolga tidak ada ditemukan yang terjangkit penyakit Hog Cholera,” jelas drh. Febria Sihotang dari Dinas PKPP Kota Sibolga, hari Senin (10/12/2019) pukul 16.00 WIB di Aula Graha Nusantara Kantor Wali Kota Sibolga.

Pernyataan dari drh. Febria Sihotang di dampingi Kadis PKPP Kota Sibolga Binsar Manalu menjawab pertanyaan awak media terkait virus babi yang membuat masyarakat enggan memakan ikan akibat bangkai babi yang di buang ke laut.

“ Ternak babi yang mati di Muara Pinang di pastikan bukan terjangkit virus hog cholera. Demikian juga dengan hasil penyelidikan hewan ternak babi milik masyarakat tak satupun di temukan terjangkit virus hog cholera,” jelas drh. Febria saat acara Temu Pers di Aula Graha Nusantara.

Febria juga menegaskan , virus babi tidak bisa menulari manusia dan hewan yang tidak termasuk species babi.

“ Tak menjangkiti manusia maupun ikan. Gak usah takut makan ikan. Kami juga menghimbau para peternak jangan membuang bangkai ternaknya yang mati ke laut.

Di jelaskan juga untuk mengantisipasi penyebaran virus hog cholera ini di Kota Sibolga, Dinas PKPP telah melakukan vaksinasi ke hewan ternak serta melakukan pengawasan terhadap Tempat Pemotongan Hewan.

“ Kita sudah lalukan vaksinasi ke seluruh hewan ternak babi. Pengawasan juga kami lakukan di tenpat pemotongan hewan agar tidak menerima penyembelihan hewan ternak babi dari luar daerah Kota Sibolga, “ tegas drh. Febria.

Di beritakan sebelumnya di salah satu media on line, Penemuan bangkai babi di salah satu tangkahan di Kota Sibolga, Sumatera Utara, yang diduga terjangkit virus hog cholera berdampak buruk terhadap para pedagang ikan.

Pasalnya kekhawatiran masyarakat mengkonsumsi ikan, membuat omzet pendapatan pedagang praktis menurun.

Ibu Gultom, seorang pedagang ikan di Pasar Mina Nauli, Kota Sibolga mengaku, sejak pertengahan November 2019, penjualannya menurun hingga 90 persen.

“Menurun kali penjualan kami, harga ikan pun anjlok. Takut masyarakat makan ikan gara-gara babi mati dibuang gitu saja ke laut,” kata dia, Sabtu 7 Desember 2019 lalu. (ast)

 

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan