“Burung Pipit Vs Cicak”

  • Whatsapp
Madayansyah Tambunan, M.Pd.

Artikel, KOLUMNUS | Dulu Ada Seorang Anak dimana ayahnya adalah seorang pemahat patung yang sangat handal dimasanya, anak itu bernama Nabi ibrahim A.S.

Putra dari Azar. Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama ” Faddam A’ ram” dalam kerajaan ” Babilon”.

Kerajan Babilon pada masa itu termasuk sebuah kerajaan yang makmur serba berkecukupan. Akan tetapi, masalah kerohanian mereka masih berada ditingkat jahiliyah, sehingga mereka tidak mengenal Tuhan pencipta mereka yang telah memberikan mereka nikmat dunia. Mereka hanya menyembah patung yang mereka pahat sendiri dari batu – batu atau terbuat dari lumpur dan tanah.

Kerajaan “Babilon” saat itu dikuasai oleh seorang Raja Yg Bernama Namrud bin Kan’an yang menjalankan tumpuk pemerintahannya dengan tangan besi dan kekuasaan mutlak, semua kehendaknya harus terlaksana dan segala perintahnya adalah undang -undang yang tidak dapat dilanggar atau ditawar.

Di tengah – tengah masyarakat yg sedemikian buruknya , Lahirlah Nabi Ibrahim A.S. yang akan membawa pelita kebenaran bagi kaumnya, Jauh sebelum ia menjadi seorang Rasul. Tuhan sudah memberikan ilham Akal sehat serta kesadaran, bahwa apa yang diperbuat oleh kaumnya adalah perbuatan yang sesat yang menandakan kebodohan dan kepicikan cara berpikir bahwa patung yg mereka sembah tidak akan dapat memberi manfaat buat kehidupan mereka.

Semasa remaja Ibrahim pernah di usir ayahnya, karena Ibrahim mengajak sang ayah untuk menyembah Tuhan yang mampu memberikan manfaat dan mudharat bagi kehidupan manusia, mendengar ajakan itu ayahnya marah lalu mengusirnya. Penolakan ayahnya terhadap dakwahnya dengan cara yang kasar dan kejam itu, tidak sedikitpun mempengaruhi ketetapan hatinya untuk memberikan penerangan bagi kaumnya, tetapi apalah hendak dikata “Ingin Hati Memeluk Gunung Tapi Tangan Tak Sampai” ternyata bukan hanya ayahnya yg marah, kaumnya juga sangat marah kepada Ibrahim, kendatipun beliau memberikan masukan ataupun bukti nyata atas kesesatan mereka.

Nabi Ibrahim kemudian berencana akan membuktikan kepada kaumnya dengan perbuatan yang nyata, yang dapat mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri, bahwa berhala – berhala dan patung -patung mereka betul -betul tidak berguna, bahkan tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

Taradisi kerajaan Babilon setiap tahun mereka selalu keluar kota beramai ramai membawa perbekalan makanan dan minuman secukupnya. mereka mengajak semua penduduknya agar ikut serta meninggalkan rumah masing – masing. Nabi Ibrahim yang diajak ikut serta , berlagak pura – pura sakit, agar di izinkan tinggal dirumah saja. Akhirnya Ibrahim di izinkan untuk tidak ikut dan di suruh untuk istirahat di rumah saja, takut penyakit Ibrahim menular kepada mereka.

Padahal, Inilah kesempatan yg di tunggu-tunggu Nabi Ibrahim tat kala melihat kota sudah kosong dari penduduknya, untuk menghancurkan seluruh patung – patung persembahan kaumnya, terkejutlah kaumnya tatkala datang dari luar kota , dan melihat keadaan patung -patung sesembahan mereka hancur lebur berkeping – keping semuanya habis di hancurkan Nabi Ibrahim kecuali sisa satu yg paling besar diantara patung tersebut.

Selidik punya selidik , akhirnya dapat kepastian bahwa Ibrahimlah pelakunya. Keputusan Mahkamah telah jatuh . Nabi Ibrahim harus diganjar dengan hukuman dibakar hidup – hidup. Ketika Nabi Ibrahim dilemparkan kedalam tumpukan kayu yang menyala – nyala itu , Atas Izin Allah bukan hanya api yang tidak mau membakar jasad Ibrahim, ternyata ada momen menarik perdebatan dua makhluk Allah saat api membakar ibrahim, yakni Burung Pipit dan Cicak.

“Burung pipit saat itu sangat bersedih, karena Nabi Allah Ibrahim di bakar hidup – hidup dengan api yang sangat besar, sehingga burung pipit tersebut bolak balik mengambil air dengan paruhnya, lalu menyiramkan air yg ada diparuhnya ke kobaran api yg membakar Ibrahim tersebut, Melihat kelakuan Burung pipit tersebut, Cicak yg melihat peristiwa itu tertawa sambil berkata, Hai.. Burung pipit, bodohnya yang kau lakukan itu, paruhmu yg kecil hanya bisa menghasilkan beberapa tetes air saja, manalah mungkin bisa memadamkan api itu sebesar itu?

Burung pipit pun menjawab : “Wahai cicak…! memang tidak mungkin aku bisa memadamkan api yg besar itu, tapi aku tidakk mau jika Allah melihatku diam saja saat sesuatu yang Allah cintai dizhalimi. Cicak terus tertawa , sambil menjulurkan lidahnya. Ia berusaha meniup api yang membakar Nabi Ibrahim A.S.

Artinya, Allah tidak akan melihat berhasil atau tidak berhasilnya Burung pipit memadamkan api yang membakar Ibrahim, itu menggambarkan bahwa Allah akan melihat dimana kita berpihak disaat melihat kezholiman atau pun kecurangan didepan mata?

Sebaliknya, memang tiupan cicak tak ada artinya tak menambah besar api yang membakar Nabi Ibrahim AS. Tapi Allah melihat dimana Ia berpihak.

Pesta demokrasi sudah usai, tentu kita sebagai warga negara yang baik dapat memilih dan memilah mana yang baik mana yang buruk, mana yang benar mana yang zholim, mana yang jujur mana yang curang.

Bangsa kita saat ini sedang sakit parah, tetapi kita tidak boleh sakit parah, terus tegak dan berjihad untuk memberi solusi walaupun itu hanya sekedar menjadi guru bagi anak -anak.

Yakinlah, pada suatu saat nanti apa yang kita tanam akan tumbuh dan berbuah manis untuk ummat dan bangsa ini walaupun kita sudah tidak ada lagi. Jangan pernah lelah berbuat baik , karena lelah akan hilang sementara kebaikan akan abadi.

Penulis : Madayansyah Tambunan, M.Pd. (Dosen STIE  Prakarti Mulya Pekanbaru)

Note : Tulisan ini merupakan kiriman dari pembaca, isi diluar tanggungjawab redaksi.

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan