Keluarga Pelaku Pengeroyokan Hasrun Mengaku Sudah Tawarkan Perdamaian Rp. 60 Juta Tapi Ditolak

  • Whatsapp

SIBOLGA,1MINUTESNEWS.Com- Astuti Aritonang (38)  salah seorang kerabat dari pelaku pengeroyokan Hasrun Efendy Tampubolon (35) warga Sarudik Lingkungan III, mengaku sudah berupaya melakukan perdamaian kepada korban pasca terjadinya pengeroyokan. Tetapi akibat jumlah uang perdamaian yang diminta sangat besar membuat keluarga tidak dapat menyanggupinya, Jumat (7/9)

Hal ini diungkapkan Astuti Aritonang alias Tuti, kepada redaksi 1Minutesnews.com usai postingan Hasrun Efendi yang viral di media sosial.

Bacaan Lainnya

Tuti menyebutkan bahwa Pihak Hakim PN Sibolga yang memutus vonis 1 tahun terhadap dipastikan telah mempertimbangkan seluruh fakta yang ada dipersidangan termasuk etikad dan upaya dari pihak keluarga untuk mengupayakan perdamaian dengan korban.

“ Pak Hakim dan Pak Jaksa saya yakin mempertimbangkan hal-hal yang terungkap dipersidangan sehingga adik saya dan teman-temannya dijatuhi hukuman 1 tahun. Salah satunya kemungkinan bahwa kejadian tersebut tidak direncakanan dan para pelaku dan pihak keluarga telah melakukan perdamaian semaksimal mungkin terhadap korban,” ungkap Tuti, hari Kamis (6/9/2018).

Tuti yang mengakui Hendra Pasaribu salah seorang dari 3 (tiga) pelaku merupakan kerabat dekatnya. Dirnya juga ikut terlibat langsung dalam upaya perdamaian dengan korban (Hasrun Efendi,red).

“ Saat korban masih di rawat di Medan, kami berencana untuk ke sana membesuk nya, Pak. Tapi atas saran dari salah seorang keluarga korban yang mengatakan bahwa tak ada gunanya karena korban hendak di bawa kembali pulang usai di Operasi, makanya kami putuskan menunggu saja,” ungkap Tuti.

Saat mengetahui korban sudah berada di kediamannya di Lingkungan III Sarudik, Tuti dengan didampingi Keplink dan beberapa orang-orang yang “dituakan”, datang membesuk ke rumah korban.

“ Saat kami dapat khabar, korban sudah sampai, kami langsung membesuknya Pak. Saat itu, orang tua korban menanyakan maksud kedatangan kami. Kami sampaikan bahwa selain untuk membesuk kami juga ikut masalah ini di selesaikan secara damai. Saat itu hasil perdamaian tidak mendapatkan titik temu karena, uang perobatan yang diminta kepada kami cukup besar. Untuk menghormati keluarga korban dan situasi korban yang baru sampai, kami pulang dengan alasan bahwa hal ini kami rundingkan dulu. Sebelum pulang kami juga menitipkan sekedar uang pembeli puding sebesar Rp. 1 Juta rupiah,” ungkap Tuti.

Walaupun terkejut dengan permintaan uang perdamaian sebesar Rp. 750 juta di hari pertama, Keluarga Tuti tetap berupaya di hari berikutnya dengan menawarkan uang perdamaian sebesar Rp. 40 Juta.

“ Kami tawarkan Pak, 50 Juta di hari ke dua. Mereka minta 250 Juta. Hari ke tiga kami datang lagi dengan penawaran perdamaian Rp. 60 juta tetapi ditolak mereka minta Rp. 125. Juta. Kami kan sudah jelaskan bahwa sepengetahuan kami biaya perobatannya ditanggung BPJS, uang yang kami tawarkan itu, karena mereka katakan bahwa beberapa tahun lagi ada biaya untuk pemasangan batok kepala yang baru dan biayanya Rp. 50 juta. Tetapi, karena juga ditolak dan kami tidak sanggup akhirnya, masalah ini lanjut ke proses hukum ,Pak,” lanjut Tuti.

Selain karena merasa bersalah terhadap kelakuan kerabatnya yang mengakibatkan korban luka parah di bahagian kepala, Tuti juga mengakui khawatir dengan posisi adiknya dan rekan-rekannya yang saat itu sudah berkeluarga dan bekerja sebagai tenaga honorer di instansi pemerintahan.

“ Sebenarnya, uang yang 60 juta pun pak, kami sudah berupaya meminjam dari pihak keluarga besar kami. Hal ini demi menunjukkan kepedulian dan rasa menyesal kami atas tindakan saudara kami kepada korban. Selain itu adik kami dan rekan-rekannya pasti di pecat dari honorer, kalau mereka dipenjarakan. Tapi yah… apa boleh buatlah Pak, karena korban tidak berterima , akhirnya adik saya dan rekannya di penjarakan dan alhasil mereka sekarang sudah dipecat sebagai tenaga honorer. Anak dan istrinya sekarang menjadi tanggungan kami,Pak,” lanjut Tuti.

Hal ini diungkapkan Tuti, karena merasa terkejut dengan postingan dan berita terkait kasus ini. Korban memposting di medsos dan menuding pihak Pengadilan Negeri Sibolga dan Kejaksaan ada “ Permainan” dengan para pelaku sehingga menjatuhkan vonis hanya 1 tahun.

“ Itu tidak benar Pak, kami pasrah dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum saudara kami ke Pengadilan. Bukan hanya hukuman badan yang saat ini menimpa adik saya, tetapi dia juga harus kehilangan pekerjaan,” lanjut Tuti sedih

Sementara itu saat Hasrun Efendi dikonfirmasi terkait pengakuan Astuti ini, membenarkan bahwa pihak keluarga pelaku benar ada mendatangi dirinya untuk melakukan perdamaian.

[irp posts=”1185″ name=”Tak Terima Pelaku Di Vonis Ringan, Warga Sarudik Korban Pengeroyokan Ini Kirim Surat Ke Presiden”]

“ Benar, Pak, ada memang pihak keluarga  datang kepada kami dan menyanggupi Rp. 60 juta. Kami mengajukan Rp. 125 juta itukan bisa ditawar. Selain itu, dasar kami menolak karena petunjuk dari Pihak Kepolisian yang menyatakan bahwa apabila kami berdamai kasus tetap berlanjut, karena perdamaian itu hanyalah untuk menjadi pertimbangan meringankan di Pengadilan saja. Sementara, pihak keluarga Pelaku meminta kami kalau sudah damai, kami lah yang mencabut perkara ini,” ungkap Hasrun melalui sambungan telephon seluler hari Kamis (6/9/2018) pukul 21.00 WIB. (Ast).

Catatan redaksi :

Terkait  hal ini, telah diberitakan hari Rabu (5/9/2018) dengan Judul “Tak Terima Pelaku Di Vonis Ringan, Warga Sarudik Korban Pengeroyokan Ini Kirim Surat Ke Presiden,”.

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan