Ironis, ABG Korban Perkosaan Kakak Kandung Malah Diganjar Pidana 6 Bulan

  • Whatsapp
Ilustrasi korban perkosaan

Jambi-1MN.Com| Pengadilan Negeri Muara Bulian, Jambi, menjatuhkan pidana penjara kepada seorang anak korban perkosaan. Majelis hakim berdalih si anak itu mengaborsi anak yang dikandungnya.

Kasus berawal saat korban diperkosa kakaknya sendiri, yang juga masih remaja, pada September 2017. Si kakak tak dapat menahan hasrat usai menonton video porno. Korban pun kemudian hamil.

Bacaan Lainnya

Saat memasuki usia kehamilan lima bulan, si adik mengurut-urut perutnya hingga keguguran. Janin itu dibungkus taplak meja dan dibuang keesokan harinya. Janin itu ditemukan warga dan polisi melacak kasus tersebut.

Setelah polisi melakukan penyidikan, tiga orang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Yaitu:

1. Ibu sebagai tersangka karena diduga ikut membantu anaknya melakukan aborsi.
2. Si kakak jadi tersangka pemerkosaan terhadap adiknya.
3. Si adik jadi tersangka karena melakukan aborsi janinnya.

Kasus bergulir ke pengadilan. Duduk sebagai ketua majelis hakim Rois Toroji, dengan anggota Andreas Arman Sitepu dan Listyo Arif Budiman.

Si adik terbukti melakukan kejahatan sebagaimana Pasal 77A ayat 1 UU Perlindungan Anak jo PP 61/2014 tentang Kesehatan Reproduksi.

“Adik usia 15 tahun dan kakaknya 17 tahun. Keduanya masih anak-anak. Kakak memperkosa karena dipicu nonton video porno. “Untuk kakak dihukum 2 tahun penjara dan 3 bulan pelatihan kerja. Adapun adik dihukum 6 bulan penjara dengan pelatihan kerja 3 bulan. Adapun ibunya masih diproses di kepolisian,” kata humas PN Muara Bulian, Listyo Arif Budiman seperti dilansir  detikcom, Senin (23/7).

Atas putusan Majelis Hakim PN Muara Bulian ini menimbulkan reaksi keras dan menjadi buah bibir warga Jambi. Alhasil gabungan LBH yang menamakan dirinya Pasukan Jarik mengadukan Majelis Hakim yang menjatuhkan vonis pidana kepada korban pemerkosaan kepada Komisi Yudisial (KY) di Jakarta.

“Ya, di sini kita mau memprotes keras mengenai putusan dari PN Muara Bulian, yang memidana seorang anak perempuan korban pemerkosaan saudara laki-lakinya karena melakukan aborsi,” kata perwakilan Pasukan Jarik, Alex Leonardo, kepada wartawan di gedung KY, Jalan Kramat Raya, Jakpus, Senin (30/7/2018).

Pasukan Jarik merupakan salah satu yang tergabung dalam Aliansi Organisasi Peduli Perempuan dan Anak. Ikut bergabung pula LBH Apik, Pasukan Jarik, Keluarga Besar Alumni Atma Jaya, dan Save All Women and Girls.

Menurut mereka, korban tidak mendapatkan pendampingan hukum yang efektif dan kredibel. Kemudian majelis hakim tidak memberikan hak untuk membela diri bagi korban.

“Yang ketiga adalah selama persidangan pengadilan menahan korban,” papar Alex.

Berdasarkan konvensi hak anak, penahanan terhadap anak haruslah menjadi upaya terakhir. Apalagi dalam hal ini anak adalah korban pemerkosaan yang membutuhkan pemulihan dari trauma fisik dan psikologis.

“Oleh sebab itu, kami ingin mendesak Komisi Yudisial membentuk tim investigasi independen terhadap pelaporan penyalahgunaan kode etik, guna melakukan investigasi dugaan pelanggaran pedoman perilaku hukum hakim,” cetus Alex.

“Menurut kami, keputusan hakim itu cacat hukum, ya. Kami meminta ke Komisi Yudisial untuk mengambil tindakan,” sambung Alex.

Selain membuat gempar Jambi, pemerkosaan inses yang akibatnya turut melibatkan orang tua ini menjadi perhatian media internasional. Seperti Guardian yang menurunkan artikel ‘Indonesia girl jailed for abortion after being raped by brother’, begitu juga New York Post hingga Voice of America(VoA). (rel/dc)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan